The Message of the Quran

 

The Message of the Quran, ringkas namun mendalam, berdasarkan riset puluhan tahun dengan merujuk kitab tafsir klasik maupun modern seperti Al-Thabari, Ibn Katsir, Al- Zamakhsyari, Al-Razi, Al-Baghawi, Al-Badhawi, Muhammad ‘Abduh, dan lain-lain, berusaha menjadikan Al-Quran sebagai kumpulan Kalam Allah “yang hidup’ dan relevan dengan konteks kekinian.


The Message of the Quran: Pertemuan Saya dengan Tafsir Al-Quran Muhammad Asad

oleh: Haidar Bagir

Tidak jarang orang atau media dengan gampang mengatributkan identitas “intelektual atau pemikir Islam”, atau bahkan “ahli filsafat dan tasawuf Islam”, kepada saya. Kalaupun ada yang benar—sesedikit apa pun—dalam atribusi itu, kali ini saya ingin memastikan kepada Anda bahwa penulis pengantar ini adalah seorang awam di bidang ilmu tafsir. Maka, komentar-komentar saya tentang The Message of the Quran harus dilihat sebagai komentar-komentar seorang Muslim yang bisa berpikir—sebutlah inteligen, kalau mau—terhadap karya Muhammad Asad ini. Bukan komentar seorang “intelektual atau pemikir Islam” atau bahkan “ahli filsafat dan tasawuf Islam”.

Selengkapnya


Apresiasi Untuk The Message of the Quran

Spesifikasi Produk

Judul: The Message of the Quran

Penulis: Muhammad Asad

Format: 21 x 27,5 cm

Halaman: 1,484 (3 Jilid)

ISBN: 978-979-433-832-2 (edisi lengkap)

Tahun terbit: 2017


 

Muhammad Asad

Muhammad Asad (Leopold Weiss) adalah salah seorang pemikir Islam terbesar abad ke-20 yang berasal dari dunia Barat. Dia telah memberi kontribusi penting dalam banyak bidang ilmu keislaman: Al-Quran, Sunnah, yurisprudensi, teori sosial, dan sejarah. Karyanya, The Message of the Quran, sebuah terjemahan dan penjelasan Al-Quran dalam bahasa Inggris, menjadi begitu signifikan sehingga akhirnya diterjemahkan lebih lanjut ke bahasa-bahasa lain: Swedia, Turki, Jerman, dan kini ke dalam bahasa Indonesia. Tidak ada terjemahan Al-Quran lainnya yang pernah mengalami hal serupa ini. Tidak diragukan lagi: karya ini merupakan terjemahan Al-Quran paling berhasil pada zaman kita ini.

Selengkapnya


Penjelasan Tafsir

9 Kelebihan Tafsir The Message of the Quran

  1. Ringkas-mendalam: membantu memahami isi Al-Quran kapan dan di mana saja.
  2. Praktis: bisa dipakai mengaji dan mengkaji pada waktu yang sama (teks Al-Quran, terjemahan, dan tafsirnya disajikan dalam satu halaman).
  3. Ditulis berdasarkan riset puluhan tahun atas berbagai tafsir tradisional, hadis, sejarah Rasul, dan penelitian bahasa Arab di kalangan suku Badui Arabia, yang dipercayai masih memelihara tradisi berbahasa Arab yang paling dekat dengan bahasa Arab yang dipakai pada zaman Rasulullah Saw.
  4. Merujuk kitab-kitab tafsir klasik maupun modern yang sudah diakui: Al-Thabarî, Ibn Katsîr, Al-Zamakhsyarî, Al-Râzî, Al-Baghawî, Al-Baidhâwî, Muhammad ‘Abduh, dll.
  5. Menjadikan Al-Quran sebagai kumpulan Kalam Allah “yang hidup” dan masuk akal sehingga relevan dengan konteks kekinian.
  6. Lebih memungkinkan pemahaman atas ajaran Islam dan pembangunan peradaban Islam yang progresif dan terbuka, tetapi pada saat yang sama tetap autentik.
  7. Menyediakan rujuk silang antarayat Al-Quran yang satu tema (sesuai metode tafsîr Al-Qur’ân bi Al-Qur’ân: ayat Al-Quran ditafsirkan dengan ayat Al-Quran lainnya).
  8. Dilengkapi dengan Indeks Istilah dan Indeks Nama yang memudahkan pencarian kata dan topik tertentu.
  9. Sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa: Swedia, Turki, Jerman, dan telah membantu banyak orang di Barat maupun Timur untuk memahami ajaran Islam dengan lebih baik.

Selengkapnya


Sumber Rujukan Tafsir The Message of the Quran

Dalam rangka menampilkan dan menjelaskan pesan-pesan Al-Quran yang mengandung begitu banyak segi, Muhammad Asad menuliskan tafsir ringkasnya dalam bentuk catatan penjelasan yang diletakkan di bagian bawah setiap halaman, dalam catatan pembuka surah, dalam lampiran, maupun dalam bentuk sisipan pada teks terjemahan, atau dalam pilihan terjemahannya sendiri. Dalam tafsirnya, sebagaimana pengakuannya dalam Prakata, Asad “banyak mengambil bahan dari karya-karya para filolog Arab terkemuka dan para mufasir klasik … tanpa karya ulama-ulama besar masa lalu itu, tidak ada terjemahan Al-Quran pada masa modern—termasuk terjemahan saya—yang dapat dihasilkan dengan harapan akan berhasil …”.

Selain merujuk pada karya ulama klasik, Asad mengakui bahwa “pembaca akan menemukan di dalam catatan-catatan penjelas karya ini bahwa saya sering mengacu pada pandangan Muhammad ‘Abduh (1849-1905)”.

Selengkapnya


Cuplikan Tafsir yang Menarik dalam The Message of the Quran

1. Iman, Akal, dan Al-Ghaib

“Nalar (akal) adalah suatu sarana yang valid untuk mencapai keimanan.”

2. Takwa

“Takwa adalah kesadaran akan kemahahadiran-Nya.”

3. Sucikanlah Pakaianmu: Sucikanlah Hatimu

Tsiyâb (pakaian) sering digunakan untuk menunjuk pada apa yang ditutupi pakaian, yakni “badan”, “diri”, “hati”, atau bahkan “kondisi spiritual” atau “perilaku” seseorang.

4. Kafir

Kafir = menutupi, menyembunyikan, mengingkari kebenaran

5. “Wajah Tuhan”

“Wajah Tuhan” maksudnya Wujud Esensial-Nya.

6. Tujuh Langit

“Langit” berarti “sistem kosmik”; “tujuh” berarti “beberapa” atau “banyak”.

7. Agama Manusia: Kesatuan dalam Keragaman

“Al-Quran merupakan titik puncak semua wahyu dan memberikan jalan yang sempurna dan final untuk memenuhi kebutuhan spiritual manusia. Namun, uniknya, risalah Al-Quran ini tidak menghalangi semua penganut agama yang terdahulu untuk meraih rahmat Allah.”

8. Perang dalam Islam

Satu-satunya alasan dibolehkannya perang dalam ajaran Islam adalah untuk membela diri.

9. Bahagia Surga atau Derita Neraka: Takdir atau Kehendak-Bebas (Free Will)?

“Kebahagiaan di akhirat nanti juga merupakan konsekuensi logis dari perjuangan manusia untuk mencapai kesalehan dan pencerahan batin.”

10. Nasikh dan Mansukh: Adakah Ayat Al-Quran yang Dibatalkan?

“Tidak ada satu pun hadis sahih yang menyatakan bahwa Nabi pernah menyebutkan suatu ayat Al-Quran ‘dibatalkan’ (mansukh).

Selengkapnya

Blog

Dari Leopold Weiss Menjadi Muhammad Asad: Pergulatan Batin Sang Cucu Rabi Yahudi Dalam Meraih Kedamaian Jiwa – Part 3

Oleh: Abdurahman el-Indonesia Leopold Weiss berusia dua puluh dua tahun saat itu. Dia bagian dari generasi Eropa yang lahir persis di peralihan abad ke-19 ke abad 20. Generasi yang menyaksikan tragedi Perang Dunia 1, persis di saat mereka sedang resah gelisah mencari-cari jati diri: “Malam-malam yang tak kunjung berakhir di bawah sinar bintang-gemintang dalam kelam, …

Dari Leopold Weiss Menjadi Muhammad Asad: Pergulatan Batin Sang Cucu Rabi Yahudi Dalam Meraih Kedamaian Jiwa – Part 2

Oleh: Abdurrahman el-Indonesia Agama leluhur Leopold Weiss tidak membuatnya puas. Begitu pula sains modern: ketika tercerai dari etika, ia justru dipakai menjadi alat untuk berperang antarbangsa dan saling menghancurkan, seperti yang dia saksikan sendiri dalam Perang Dunia 1, yang memakan korban setidaknya 17 juta nyawa melayang dan 20 juta manusia terluka atau cacat. Walhasil, pemuda Weiss yang …

Dari Leopold Weiss Menjadi Muhammad Asad: Pergulatan Batin Sang Cucu Rabi Yahudi Dalam Meraih Kedamaian Jiwa – Part 1

Oleh: Abdurrahman el-Indonesia Pada 2 Juli 1900 di Lemberg, Galicia, wilayah Kerajaan Austro-Hongaria (kini bernama Lviv, bagian dari negara Ukraina), lahirlah Leopold Weiss. Dia anak kedua dari tiga bersaudara. Orangtuanya tergolong cendekiawan Yahudi-Polandia terpandang. Kakeknya dari garis ibu, seorang bankir lokal yang kaya. Kakeknya dari pihak ayah—juga leluhurnya seterusnya hingga ke atas—adalah rabi (pendeta) Yahudi. …